Yayasan Dharma Kasih | Peduli Yatim di Cakung Jakarta Timur

Adab Menerima Tamu Dalam Islam

Kedatangan tamu merupakan berkah bagi seorang muslim. Sudah sepatutnya kamu menyambut tamu dengan baik agar mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT. Jadi, adab menerima tamu ini penting dipahami umat Islam.

Adab menerima tamu dalam Islam yaitu dengan menerima, meyambut, dan menjamu dengan baik. Menerima dan memuliakan tamu adalah bagian dari tanda keimanan seorang muslim. Rasulullah SAW adalah contoh teladan penerima tamu yang baik. Menerima dan memuliakan tamu adalah bagian dari tanda keimanan seorang muslim.

1. Menjawab Salam dan Berikan Sambutan yang Baik

Adab menerima tamu dalam Islam yang pertama yaitu menjawab salam dan memberikan sambutan yang baik. Saat seseorang bertamu ke rumahmu, kamu harus menjawab salam dan bersegera memberikan sambutan dengan membukakan pintu, senyum ceria, dan menyapa dengan ramah.

Senyum ceria merupakan ekspresi bahwa kita senang menyambut kedatangannya. “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah”, demikian sabda Nabi SAW. Selain itu, dalam menyambut tamu kamu juga perlu memperhatikan pakaian. Pakailah pakaian yang bersih, rapi, dan sopan agar tamu nyaman.

2. Menunjukkan Wajah Gembira

Seperti yang disinggung sebelumnya, kamu juga perlu menunjukkan senyum ceria di depan tamu dan menunjukkan kondisi serba cukup. Rasulullah SAW memberikan teladan dengan selalu tersenyum ketika berbicara (HR. Ahmad no 20742). Beliau dikenal sebagai orang yang paling banyak senyumnya, sebagaimana hadis dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i dia berkata; “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah SAW.”(HR. Tirmidzi no 3574).

Senyum yang kamu berikan melapangkan hati tamu dan membuat mereka merasa terhormat dan dihargai. Bahkan, dikatakan dalam pepatah bahwa menunjukkan wajah gembira lebih baik dari memberi suguhan yang tidak disertai wajah gembira. Sapaan yang hangat juga dapat mencairkan suasana sehingga pertemuan menjadi lebih hangat dan akrab.

3. Mengajak Ngobrol yang Baik-Baik dan Menemani Tamu

Mengajak ngobrol dan tetap menemaninya juga penting sebagai adab menerima tamu dalam Islam. Kamu bisa mengajak ngobrol para tamu dengan hal-hal yang disukainya. Hindari juga percakapan yang dapat membuat mereka tidak nyaman. Kamu harus menjaga suasana tetap bahagia dan nyaman bagi tamu.

Selain itu, tetap temani tamu ketika dia sedang bertamu. Jangan tidur sebelum merka pergi atau beristirahat, dan jangan mengeluh tentang waktu dengan kehadiran mereka. Kamu juga perlu menunjukkan rasa sedih saat mereka akan pergi. 

4. Menyediakan Hidangan Kepada Tamu

Adab menerima tamu dalam Islam berikutnya yaitu dengan menyediakan hidangan. Dari Abu Suraih Al Ka’bi bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam.” (HR Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah). Nabi Muhammad sendiri suka memberikan hidangan kepada tamu-tamu beliau.

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah dia berkata:  “Pada suatu malam saya pernah bertamu kepada Nabi SAW. Lalu beliau memerintahkan untuk diambilkan sepotong daging kambing besar. Setelah dipanggang, beliau mengambil sebilah pisau, lalu beliau memotong-motongnya untukku dengan pisau tersebut” (HR. Abu Daud no 160).

Bahkan, adab menjamu tamu dalam Islam ini juga dipraktikkan Rasulullah SAW Terhadap tamu non muslim. Dari Abu Hurairah berkata, “Seorang kafir datang bertamu kepada Rasulullah SAW. Maka beliau memerintahkan untuk mendatangkan seekor kambing untuk diperah, orang kafir itu lalu memimun perahan susunya. Setelah bertamu, orang kafir tersebut keesokan harinya langsung masuk Islam.

5. Mengiringi Tamu Ketika Pulang

Mengiringi tamu saat akan pulang jadi salah satu adan menerima tamu dalam Islam yang wajib dikenali. Bila tamu telah menikmati jamuan yang disajikan, menyelesaikan hajatnya, dan berpamitan hendak pulang, kamu sebaiknya mengucapkan kata-kata perpisahan yang menyenangkan, berterima kasih atas kunjungannya, dan menunjukkan raut wajah yang berseri-seri.

Untuk menunjukkan keakraban, antarkan tamu hingga halaman rumah, dan pandanglah hingga ia telah keluar dari halaman rumah. Abu Ubaid Qasim bin Salam pernah mengunjungi Ahmad bin Hambal. Abu Ubaid berkata: “Tatkala aku hendak pergi, dia bangun bersamaku. Aku pun berkata (karena malu atas penghormatannya itu): “Jangan kau lakukan ini, wahai Abu Abdillah!”

Leave a Comment